Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Workshop Etnoastronomi: Dr. Ahmadin, M.Pd Ajak Peserta Membaca Peradaban Maritim dari Langit

Kamis | Juli 30, 2026 WIB | 0 Views Last Updated 2026-07-30T23:04:52Z

 

Foto: Dr. Ahmadin, S.Pd., M.Pd., (kedua dari kiri) saat membawakan materi bertajuk "Menatap Langit, Membaca Zaman" pada workshop yang digelar di aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Kamis (30/7/2026). (BaraPost.com)


BARAPOST.COM, PANGKEP  Pengetahuan tentang langit telah menjadi bagian penting tak terceraikan dari proses lahir dan berkembangnya peradaban maritim Nusantara. Jauh sebelum masa lahirnya kompas, GPS (Global Positioning System), serta teknologi navigasi modern, para pelaut Indonesia termasuk Bugis-Makassar, menjadikan rasi bintang sebagai petunjuk dalam aktivitas bahari.


Fungsi rasi bintang antara lain sebagai petunjuk arah, penanda musim, serta panduan dalam membaca perubahan alam. Pernyataan tersebut mengemuka dalam workshop warisan budaya maritim bertajuk "Membaca Rasi Bintang: Etnoastronomi Nelayan Kepulauan Spermonde".


Workshop yang berlangsung di aula kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pengkep) tersebut, menghadirkan Dr. Ahmadin, S.Pd., M.Pd. sebagai pemateri, pada Kamis (30/7/2026).


Dalam pemaparan materinya, Dr Ahmadin sang penulis buku "Pelautkah Orang Selayar?" ini, menjelaskan pentingnya etnoastronomi sebagai kajian yang menghubungkaitkan antara fenomena langit dengan kehidupan sosial, budaya, dan ekonomi sebagai sistem pengetahuan lokal.


Menurut penulis buku-buku maritim yang juga sebagai dosen sekaligus Wakil Dekan (WD) bidang akademik Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FIS-H), Universitas Negeri Makassar (UNM) ini, masyarakat maritim di Sulawesi Selatan sejak dahulu telah mengembangkan tradisi membaca bintang sebagai warisan kearifan lokal.


"Membaca peradaban di langit lewat rasi bintang, maka kita bukan hanya belajar tentang astronomi, identitas budaya, dan kecerdasan ekologis masyarakat lokal," ujar Dr. Ahmadin.


Pengajar geografi sejarah dan peneliti sosiologi ruang ini, menuturkan bahwa pelaut Bugis, Makassar, Bajo, Selayar, Mandar, serta berbagai komunitas bahari lainnya memiliki sistem pengetahuan yang mengintegrasikan pembacaan terhadap bintang dengan arah angin, arus laut, dan pergantian musim.


Berbekalkan pengetahuan tersebut lanjut Ahmadin, menjadikan pelaut Bugis, Makassar, Selayar, dan Mandar dapat menjelajahi ruang laut nan jauh, membangun jaringan perdagangan antarpulau, hingga menjangkau kawasan Asia Tenggara dan Samudra Hindia.


Lewat materinya yang berjudul "Menatap Langit, Membaca Zaman", Ahmadin juga menjelaskan pentingnya pelestarian pengetahuan navigasi masyarakat lokal sebagai bagian dari warisan budaya maritim Indonesia. Bahkan menurut dia, di tengah kemajuan teknologi, revitalisasi pengetahuan lokal tetap menjadi urgen sebagai langkah strategis untuk tetap menghidupkan nilai-nilai tersebut. 


Disebutkan pula bahwa sistem pengetahuan masyarakat lokal tersebut, menjadi suplemen bagi materi pelajaran di sekolah. "Guru mata pelajaran geografi dan sejarah memegang peran penting dalam proses pewarisan pengetahuan tentang etnoastronomi tersebut", tegasnya.


Para peserta yang terdiri atas guru-guru Sekolah Menengah Atas (SMA) asal Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) tampak antusias mengikuti jalan diskusi mengenai berbagai rasi bintang yang digunakan dalam pelayaran tradisional. Demikian pula hubungan manusia dengan ruang langit, serta peluang mengintegrasikan etnoastronomi ke dalam pendidikan, penelitian, dan pengembangan kebudayaan.


Melalui wokshop yang dimoderatori Ilham Samudra Sanur, S.Pd., M.Pd. ini, Ahmadin berharap etnoastronomi tidak sebatas dipahami sebagai kajian akademik, tetapi lebih dari itu sebagai sebuah sarana untuk membangun kesadaran betapa pentingnya menjaga identitas maritim masyarakat Sulawesi Selatan.


"Membaca langit berarti membaca perjalanan zaman. Di sana tersimpan jejak pengetahuan, nilai budaya, dan cara pendahu kita memahami alam dan ruang laut. Itulah sebabnya warisan ini pe rlu dirawat dan dilestarikan sehingga menjadi sumber inspirasi bagi pembangunan Indonesia khususnya di sektor maritim," tutupnya.


Khumairah Mansyur, S.Pd., M.Pd. sebagai ketua tim program menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada segenap pihak atas terselenggaranya kegiatan ini. Ia berharap luaran dari program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan ini dapat memberikan dampak nyata.(am/bd)

×
Berita Terbaru Update