Ahmadin, Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum UNM, penulis buku Sosiologi Ruang
Memotret sebuah kota dari sudut pandang ruang peradaban, maka asosiasi berpikir kita akan tertuju pada perspektif yang membayangkan etnitas kehidupan ini tidak sekadar dari aspek kemajuan ekonominya. Artinya, indikator kemajuan kota bukan hanya karena memiliki gedung-gedung pencakar langit, jalan raya bertingkat (flyover), kawasan bisnis yang megah, maupun pusat perbelanjaan yang mewah, tetapi juga yang terpenting adalah kualitas ruang publik. Alasannya karena kota merupakan ruang kehidupan manusia, tempat dimana warganya bertemu, berinteraksi, serta membangun tatanan kehidupan sosial.
Ruang publik dalam konteks ini seharusnya dipersepsi sebagai jiwa kota yang elemen fasilitas infrastruktur serta suasananya menyuguhkan kehidupan, memberi makna, serta mencipta identitas simbolik. Makassar sebagai kota metropolitan terbesar di kawasan timur Indonesia, menarik dijadikan unit analisis untuk mengkaji hubungan antara ruang publik dan kehidupan masyarakat kotanya.
Pertumbuhan kota Makassar setidaknya dalam dua dekade terakhir, menunjukkan perkembangan yang cukup spektakuler pada aspek fisik, seperti: pembangunan kawasan pemukiman, pusat perdagangan, infrastruktur jalan raya, fasilitas pendidikan, perkantoran, dan lainnya. Pertanyaan kritiknya yakni apakah perkembangan tersebut juga berjalan seiring dengan pertumbuhan ruang publik yang representatif sebagai ruang bersama warga kota?.
Kota Makassar yang juga berjuluk “Kota Daeng” atau juga pernah populer dengan sebutan “Kota Anging Mammiri”, telah lama memiliki sebuah ruang publik bernama Pantai Losari. Area publik tepi pantai legendaris yang berlokasi di sebelah barat kota Makassar ini, pernah diabadikan dalam syair lagu “Sumpah Benang Emas” ciptaan Herman Tanjung, yang dinyanyikan oleh ratu Dangdut Elvy Sukaesih.
Ruang publik sekaligus ikon kota Makassar ini telah mengalami tahapan perubahan wajah oleh kebijakan pemerintah kota dan saat ini tengah dirancang menjadi ruang publik yang lebih inklusif. Losari yang telah dipoles dan dirias dalam wajah modernnya pun, banyak diminati dan jadikan sebagai tempat berkumpul bagi warga kota maupun para pendatang dari luar Makassar. Setiap hari tampak di area ruang publik ini ramai dikunjungi oleh para keluarga, mahasiswa, pelajar, dan para wisatawan.
Losari atau sekarang populer dengan sebutan Anjungan Losari, pun menunjukkan fungsinya efektifnya sebagai ruang publik yang inklusif dimana sekat sosial cair bersama suasana keterbukaannya untuk diakses oleh semua kalangan. Semua warga tanpa terkecuali dapat menikmati suasana Pantai Losari tanpa terbedakan atas status sosial maupun ekonomi.
Kenyataan ini membuktikan bahwa Anjungan Losari secara fungsional telah termanfaatkan lebih dari sekadar tempat wisata pantai, yakni sebagai arena interaksi sosial yang dapat mencipta rasa bersama diantara keragaman sosial-budaya masyarakat kota. Ruang publik ini menjelma piranti perekat sosial yang memperjumpakan individu dari asal lingkungan, profesi, latar sosial-ekonomi yang berbeda.
Kota Makassar juga memiliki ruang publik yang banyak diminati para pengunjung yakni Taman Pakui Sayang yang berlokasi strategis di pusat kota yakni Jalan A.P. Pettarani, tepatnya di halaman Dinas Bina Marga Sulawesi Selatan. Public Space ini memiliki ciri lingkungan yang asri serta menyediakan aneka fasilitas olehraga yang dapat digunakan secara gratis, seperti: area senam, jogging track, lapangan tenis, alat fitnes outdoor, serta area bermain anak.
Berlokasi di lintasan akses jalur jalan yang menghubungkan Maros-Makassar-Gowa atau sebaliknya, membuat Taman Pakui Sayang menjadi alternatif pilihan tidak hanya bagi warga kota tetapi juga mereka yang sedang perjalanan melintasi jalan Pettarani dapat mampir di sini. Selain itu, posisi Taman Pakui yang berada di kawasan pemukiman padat juga menjadi faktor pendukung bagi fungsinya yang memasilitasi kebutuhan warga akan area terbuka hijau.
Selain Anjungan Losari dan Taman Pakui Sayang, kota Makassar juga memiliki ruang publik lain, seperti: Lapangan Karebosi yang memiliki area jogging track yang cukup panjang dan berlokasi di Jalan Ahmad Yani, Taman Macan yang menawarkan area jogging track dan senam dilengkapi pepohonan yang rindang di Jalan Sultan Sultan Hasanuddin, Lapangan Hasanuddin sebagai fasilitas olahraga di Jalan Jenderal Sudirman, area Kampus Universitas Hasanuddin yang memiliki area jogging, fasilitas olahraga, dan memiliki suasana asri dengan pepohonan rindang di Jalan Tamalanrea, dan lainnya.
Berbagai ruang publik tersebut menjadi urgen fungsinya diantara laju perkembangan kota Makassar yang tampak memberi tekanan kuat terhadap ketersediaan ruang terbuka. Betapa tidak, praktik alih fungsi lahan perkotaan untuk kepentingan komersial menjadi pemicu terjadinya krisis ketersediaan ruang publik. Fenomena lainnya seperti beberapa trotoar yang seharusnya menjadi hak guna bagi para pejalan kaki, kadangkala telah terampas oleh aktivitas bervisi komersil.
Kondisi ironis tersebut kemudian semakin diperparah oleh timbulnya kecenderungan warga kota yang mengonsentrasikan aktivitasnya pada pusat perbelanjaan, kafe, warung-warung kopi, serta ruang-ruang komersial lainnya. Konsekuensinya, praktik dan pengalaman meruang bagi warga kota pun terabaikan, lalu tergantikan oleh kecenderungan lebih menyukai aktivitas belanja.
Kondisi seperti inilah yang mendorong terjadinya tarik menarik kepentingan, dimana karakteristik warga kota sebagai penikmat ruang belanja menjadi angin segar bagi para pengusaha atau pemilik modal berkerjasama dengan pemerintah untuk selalu berusaha menghadirkan pusat perbelanjaan yang representatif. Di sisi lain sikap abai sebagian besar warga kota akan fungsi ruang publik, memicu kurang terprioritaskannya pembangunan di sektor ini.
Bukan tidak mungkin rendahnya kontribusi ruang publik terhadap pendapatan pemerintah kota, menjadi kendala bagi proses peningkatan kualitas ruang publik tersebut. Padahal harus kita jujur bahwa perkembangan kota dicirikan oleh perubahan wajahnya menjadi hutan beton, membuat suhu udara bertambah panas, berkurangnya vegetasi perkotaan, serta padatnya arus lalu lintas mengindikasikan pentingnya ruang terbuka hijau.
Taman Pakui Sayang, Taman Macan, serta area publik Universitas Hasanuddin yang ditumbuhi pohon-pohon peneduh serta suasana asri nan nyaman, merupakan ruang publik kota yang mencerminkan keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan pembangunan sosial. Selain itu, ruang publik dalam konteks ini pun harus terbayangkan lebih jauh tidak hanya berfungsi secara sosial tetapi juga bervisi ekologis berupa penciptaan kota yang sehat dan nyaman melalui pengadaan area terbuka hijau.
Jika sebuah kota memiliki ruang publik yang hidup dan menghidupi aktivitas warganya, maka kota tersebut telah menjalankan fungsinya sebagai arena tempat membangun solidaritas sosial, memupuk rasa memiliki, serta mencipta identitas kolektif. Sebaliknya, jika sebuah kota tidak memiliki ruang-ruang publik yang representatif dan inklusif maka itu merupakan pertanda telah rapuhnya sendi-sendi kehidupan bersama.
Jangan lupa bahwa tradisi masyarakat Indonesia termasuk secara khusus masyarakat Makassar yang selalu ingin berkumpul, merupakan modal besar pengembangan ruang rublik yang dapat memasilitasi para warga untuk berkumpul dan beraktivitas.
Akhirnya, kita harus menyepakati bahwa kemajuan dan masa depan kota Makassar, bukan semata-mata dilihat dari indikator pembangunan fisik seperti gedung-gedung tinggi, jalan raya bertingkat, serta seberapa besar investasi yang masuk ke pemerintah kota. Sebaliknya, seberapa mampu menciptakan ruang-ruang publik berkualitas dan inklusif sebagai wadah untuk merawat kehidupan bersama para warganya.
Dalam fungsi ini pulalah ruang publik menemukan maknanya sebagai jiwa kota tempat dimana denyut nadi kehidupan berlangsung serta identitas simbolik kolektif tercipta.***
