![]() |
| Foto: Penulis (kiri) saat membahas sepak bola dengan Iwan Azis (tengah) dan Mustam Arif di salah satu warkop di Makassar. (Dokpri/Istimewa) |
Oleh: Rusdin Tompo (Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan)
BARAPOST.COM - Ngopi sambil bahas sepak bola di warung kopi (warkop) tak ubahnya kita merayakan diri sebagai homo economicus (manusia ekonomis) plus homo sapiens (manusia yang berpikir, bijaksana) dan homo ludens (manusia yang bermain) sekaligus. Obrolan aktual itu bisa bersama teman atau bahkan kenalan baru, yang nyambung hanya karena punya minat sama pada kompetisi sepak bola sejagat: Piala Dunia 2026.
Homo ludens adalah istilah yang digunakan filsuf asal Belanda, Johan Huizinga, dalam bukunya Homo Ludens (1938). Huizinga mendaku bahwa peradaban muncul dan berkembang dalam permainan.
Tentu pernyataan ini tidak berlebihan bila dilekatkan pada sepak bola. Sebab, olahraga yang dimainkan oleh 11 pemain per tim itu, bukan cuma perkara adu taktik di lapangan hijau selama 2x45 menit, melainkan peta besar industri, budaya lintas benua dan bangsa, gaya hidup yang kreatif-tranformatif, identitas yang menyatukan, dan harga diri bangsa.
Tak ubahnya warkop yang bukan hanya soal meracik dan menyuguhkan kopi. Ada sesuatu yang melampaui aroma yang menguar dari suguhan kopi hitam, kopi susu, atau apapun varian rasanya.
Bila sepak bola bukan melulu soal skor akhir, begitupun ngopi, lebih daripada apa yang tampak pada secangkir kopi.
Kaos sebagai Penanda
"Saya sebenarnya penggemar Argentina sejak lama. Saat masih ada Mario Kempes. Mereka juara dunia 1978," kata AB Iwan Azis, teman ngopi di Warkop Azzahrah.
Beliau berkomentar begitu, lantaran melihat saya mengenakan kaos non-match kit warna sky blue grey, mirip yang dikenakan pelatih Argentina, Lionel Scaloni, bila kesebelasan Albiceleste itu tengah berlaga.
Bedanya, yang dipakai Scaloni polos, hanya ada logo AFA (Asociacion del Futbol Argentino) dan logo pabrik apparel sponsornya. Sementara kaos lengan pendek punya saya, terdapat tiga garis yang memanjang sebagai ciri merek kaos tersebut.
Iwan Azis tampaknya hendak memperjelas posisinya sebagai pendukung Argentina. Karena setelah itu, beliau memperlihatkan fotonya yang tengah bersepeda mengenakan jersey tim Belanda. Ada pula foto lainnya, saat beliau tampak gagah memakai jersey tim panser Jerman.
Kaos Jerman itu hadiah dari sepupunya, Firman Bintang, produser film dan televisi. Beliau mengenakan kaos untuk difoto, sekaligus sebagai tanda terima kasih kepada sepupunya itu.
Kalau saya, masih terbawa euforia, setelah Lionel Messi cs dengan meyakinkan mengalahkan Austria 2-0 pada fase penyisihan di Grup J, dalam pertandingan di Dallas, Amerika Serikat, Senin, 22 Juni 2026. Pada fase grup, juara Piala Dunia Qatar 2022 itu, menjadi pemuncak dengan hasil poin penuh, setelah mengalahkan Aljazair (3-0), Austria (2-0), dan Jordania (3-1).
Jadi kaos hari itu adalah penanda bahwa saya pendukung Argentina. Kaos-kaos seperti itulah yang bisa dan biasa kita dapati manakala nonton bareng (nobar) tayangan sepak bola di warkop.
Kaos sepak bola bukan hanya berfungsi sebagai busana, tetapi investasi dan prestise.
Lihatlah para kolektor jersey sepak bola yang keukeuh berburu kaos kesebelasan kebanggaan atau kaos dengan nomor punggung bertuliskan nama idola. Apalagi bila dibubuhi tanda tangan sang bintang lapangan.
Dalam kegiatan nobar sepak bola, mereka yang menyukai tim atau punya idola pemain di tim tertentu, akan datang mengenakan jersey kesebelasan tersebut. Tak peduli, apakah yang dipakai itu ori atau kw, kaos jadi simbol identitas, kebangaan, penanda, juga sekaligus pembeda.
Sensasi Nobar Memang Beda
Harus diakui, suasana dan sensasi menonton bola sendiri di rumah, dan nobar di warkop, kafe, resto, dan area outdoor sangat jauh berbeda. Nobar itu sudah pasti seru, karena kita bisa mendengar orang-orang serentak spontan berteriak, bertepuk tangan, lengkap dengan komentar-komentar khas penonton bola kaki.
Saya bukan orang yang selalu nobar sepak bola di warkop. Hanya ada beberapa pertandingan yang saya saksikan di warkop. Siapa nyana, dari peristiwa itu saya bukan saja mengenang perayaan klub kesayangan yang memenangkan kejuaraan, tetapi juga merasakan perubahan kota yang bertumbuh dan berkembang, momen-momen penting sejarah sepak bola, dan suasana kebersamaan dengan anak-anak saat mereka masih kecil.
Pada Piala Dunia 2006 di Jerman (9 Juni-9 Juli 2006), saya kerap mengajak anak-anak nobar di Kafe Ogie, Jalan AP Pettarani. Kafe ini punya warnet (warung internet) di lantai 2, yang jadi alasan saya sering ngopi dan kirim e-mail di sana.
Saat nobar, layar besar dipasang membelakangi Ramayana Department Store (Delta Plaza), sehingga kami leluasa menonton dari teras atau lahan parkir yang ditambahi kursi. Kafe ini, sudah tutup, tak lagi berdiri di sana, seiring redupnya bisnis warnet.
Ada lagi yang paling terkenang, saat nonton Final Liga Champions antara Manchester United vs Barcelona di Roemah Kopi, Jalan Sultan Alauddin. Ini pertandingan berkelas di Stadion Wembley, tanggal 28 Mei 2011.
Saya nonton bersama Gilang, anak sulung saya. Acara nobar ini, kayaknya disponsori rokok, makanya kami membeli tiket+kopi dan hadiah rokok. Namun saya menolak rokoknya saat disodorkan di depan pintu masuk.
Pertandingan itu paling diingat bukan karena gawang MU, yang dikawal Edwin van der Sar kebobolan 3 kali oleh trio Barca, yakni Pedro, Messi, dan Villa. Melainkan karena bahasa tubuh Sir Alex Ferguson yang menunjukkan ketegangan sangat ketika tersorot kamera. Di layar TV, Fergie--legenda pelatih MU itu--tak henti-henti mengunyah permen karet. Tangannya tampak gemetar.
Tiki-taka Barca yang dilatih Pep Guardiola, kala itu, berhasil merengkuh "Si Kuping Besar" untuk ke-4 kalinya. Skor dikunci: 3-1. Sebiji gol balasan MU, disarangkan Wayne Rooney.
Bagi saya, malam itu merupakan tontonan yang sangat memorable. Roemah Kopi, yang ketika masih aktif sering mengadakan diskusi-diskusi politik dan isu-isu publik itu, sudah lama tak lagi beroperasi. Tutup.
Belakangan ini, warkop yang kerap saya sambangi nonton pertandingan sepak bola, adalah Warkop Bundu di Jalan Aroepala. Penyisihan Piala Dunia 2026 zona Asia, beberapa pertandingannya, saya tonton di situ.
Antusiasme begitu besar ditunjukkan oleh mereka yang datang, setiap kali Timnas Indonesia bertanding. Mereka menyaksikan sepak bola dengan spirit nasionalisme, mengenakan kaos timnas atau yang bernuansa merah-putih. Walau asa itu akhirnya kandas.
Skuad Garuda mengakhiri perjuangannya pada Babak 3 Grup C. Indonesia finis di posisi keempat di bawah Jepang, Australia, dan Arab Saudi.
Nobar lainnya, saat kesebalasan PSM terakhir kali Juara Liga 1, pada musim 2022-2023.
Hari itu, 31 Maret 2023, merupakan laga penentu. Pertandingan berlangsung di Stadion Gelora BJ Habibie, Kota Parepare, yang jadi homebase sementara kesebelasan juku eja.
Pertandingan penentuan itu sukses dituntaskan PSM setelah menghempaskan Madura United dengan skor 3-1. Coach Bernardo Tavares, asal Portugal, mampu meramu tim dengan gaya sepak bola menyerang dan pressing, sehingga meraih poin 75 di pengujung musim, unggul 5 angka dari Persib Bandung.
Hari itu Makassar pecah. Penonton di Warkop Bundu membeludak. Jumlah layar monitor untuk menyaksikan pertandingan historis itu lebih dari 5, yang dipasang pada beberapa titik atau ruangan.
Nama-nama seperti Wiljan Pluim, Yakob Sayuri, dan Yuran Fernandes dielu-elukan. Arak-arakan langsung terjadi. Orang-orang keluar dari warkop dan tempat-tempat nobar memenuhi jalanan Kota Makassar untuk berkonvoi. Suara bising knalpot, klakson bersahut-sahutan, serta bendera-bendera PSM dibawa berkeliling layaknya menang perang.
Mural raksasa dengan wajah-wajah pemain PSM dibuat beberapa hari sesudahnya, menghiasi sudut-sudut kota sebagai bentuk kebanggaan, penghargaan, dan penghormatan. Salah satunya masih bisa dilihat pada dinding bangunan warung kopi di sudut Jalan Bhayangkara, Pa'baeng-bang, Makassar.
Warkop tersebut kini hanya tinggal kenangan. Riwayatnya tamat. Di sana terpasang spanduk akan dijual.
Ia tak adaptif dengan selera warga kota dan tantangan zaman yang serba kompetitif. Sementara cerita tentang sepak bola terus berlanjut dari satu kompetisi ke kompetisi berikutnya.
Bahkan, ngopi sambil ngobrol sepak bola bisa lebih lama dan panjang dibanding kompetisi itu sendiri. Mengapa? Sebab ngopi itu tak mengenal musim, beda dengan sepak bola yang mengenal jeda musim. (*)
